Guru MIN 10 Asahan Berinovasi: Pelatihan Daur Ulang di Sanggar Dapur Kreasi Hasilkan Barang Ramah Lingkungan

0
232

Kisaran (Humas) Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan keterampilan di bidang pengelolaan lingkungan hidup, dua guru dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 10 Asahan mengikuti pelatihan intensif tentang daur ulang sampah plastik, kertas, dan logam yang diselenggarakan di Sanggar Daur Ulang Risarefangga, salah satu pusat edukasi lingkungan yang aktif di Kabupaten Asahan. Minggu, (25/05/2025)

Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama satu hari ini menghadirkan berbagai materi menarik dan aplikatif seputar teknik pengelolaan limbah rumah tangga, terutama yang berbasis plastik, kertas, dan logam. Para peserta, termasuk dua guru dari MIN 10 Asahan yakni Syuhada dan Nanik Yulistiawati mendapatkan pelatihan langsung dari praktisi daur ulang serta penggiat lingkungan yang telah berpengalaman.

Dalam wawancara singkat,nanik menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat membuka wawasan tentang pentingnya mengelola sampah dengan bijak dan kreatif. “Kami sangat antusias mengikuti pelatihan ini. Banyak hal yang sebelumnya tidak kami ketahui, kini menjadi inspirasi untuk diterapkan di lingkungan sekolah. Kami ingin menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sejak dini kepada para siswa,” ujarnya dengan semangat.

Sementara itu, kepala madsarasah Sartiji S.Pd.I,.MM menambahkan bahwa pelatihan ini tidak hanya sekadar teori, tetapi juga penuh praktik langsung, seperti membuat kerajinan, mendaur ulang kertas menjadi kertas hias, hingga membuat karya seni dari logam bekas. “Ini sangat aplikatif dan relevan” katanya.

Sanggar Daur Ulang Risarefangga, yang menjadi tuan rumah kegiatan ini, memang dikenal sebagai pionir dalam menggerakkan gerakan peduli lingkungan di wilayah Asahan. Dengan fasilitas lengkap dan tenaga pengajar profesional, sanggar ini kerap menjadi tujuan studi banding berbagai sekolah dan komunitas lingkungan.

“Kami ingin memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan generasi yang peduli dan sadar akan pentingnya kelestarian lingkungan,” ungkap Koordinator Pelatihan,  “Pelibatan guru dalam pelatihan ini sangat strategis karena mereka adalah agen perubahan di lingkungan sekolah,” tambahnya.

Kehadiran dua guru MIN 10 Asahan dalam pelatihan ini diharapkan menjadi awal dari transformasi menuju sekolah yang lebih ramah lingkungan. Tidak hanya berdampak pada siswa, tetapi juga menjadi model bagi sekolah-sekolah lain di kawasan Asahan.

“Kami akan segera berbagi ilmu yang kami peroleh kepada rekan guru dan siswa. Kami percaya bahwa perubahan besar berawal dari langkah kecil, salah satunya adalah mulai memilah dan mendaur ulang sampah di sekolah,” tutup Ibu Syuhada.

Dengan semangat dan komitmen seperti ini, MIN 10 Asahan menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga tentang menanamkan nilai-nilai kehidupan, termasuk kepedulian terhadap bumi yang menjadi tempat tinggal bersama.(na)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here