
Nilai dalam raport bukanlah ukuran tunggal kecerdasan atau masa depan anak, hal itu hanya cuplikan dan proses belajar yang sedang dijalani, termasuk tantangan, adaptasi dan upaya.
Anak yang nilainya belum tinggi, belum tentu malas atau gagal. Bisa jadi, dia sedang belajar mengatur ritme belajarnya, memahami dirinya sendiri, atau sedang menghadapi hambatan yang tidak terlihat dimata kita.
Pendidikan butuh dua sayap yaitu sekolah/madrasah dan rumah. Guru dan orang tua harus menjadi mitra yang saling melengkapi. Jika hanya satu pihak yang mendidik, anak tumbuh pincang tidak stabil. Tanpa adanya kolaborasi, pendidikan yang sesungguhnya menjadi setengah jalan.
Sikap dan reaksi orang tua saat menerima raport akan sangat menentukan hubungan anak dengan proses belajar saat nilai anak baik jangan hanya diberi pujian, tanyakan juga “apa yang membuat kamu nyaman belajar?”. Saat nilai anak turun, jangan langsung menyalahkan. Tanyakan dengan hangat “apa yang bisa dibantu agar kamu lebih semangat belajar?”.
Mari geser sudut pandang bahwa raport bukan tujuan akhir tapi cermin dari perjalanan belajar yang dinamis. Anak yang dihargai usahanya akan lebih percaya diri untuk bangkit dibandingkan anak yang hanya dinilai dari angka.




