Marthen Indey: Sang Pejuang Integrasi Papua ke Pangkuan Ibu Pertiwi

0
1484

 

Marthen Indey: Sang Pejuang Integrasi Papua ke Pangkuan Ibu Pertiwi

 

Marthen Indey adalah salah satu tokoh kunci dalam sejarah perjuangan integrasi Papua (dahulu Irian Barat) ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia adalah simbol semangat nasionalisme dan keteguhan hati dari Tanah Cendrawasih yang tak pernah menyerah pada kolonialisme Belanda, bahkan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

 

Latar Belakang dan Kehidupan Awal

 

Marthen Indey dilahirkan di Doromena, Jayapura, Papua, pada tanggal 16 Maret 1912. Sejak muda, Marthen menunjukkan kecerdasan dan tekad yang kuat. Ia menempuh pendidikan dasar dan kemudian melanjutkan ke Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat. Setelah lulus pada tahun 1934, ia memulai karirnya sebagai polisi di bawah pemerintahan kolonial Belanda di Papua.

Awalnya, Marthen Indey bertugas sebagai agen polisi Kelas II dan ditempatkan di Ambon, dengan area dinas mencakup Mimika dan Banda Neira. Salah satu prestasi awal yang ia raih adalah kemampuannya mendamaikan Suku Ayam (bagian dari suku Asmat) yang dikenal agresif dan kerap menyerang Mimika. Marthen berhasil berunding dengan kepala-kepala perang suku tersebut, yang berujung pada kesepakatan hidup berdampingan. Keberhasilan ini menunjukkan bakat kepemimpinan dan negosiasinya sejak dini.

 

Titik Balik Nasionalisme: Pengaruh Tahanan Digul

 

Perjalanan hidup Marthen Indey berubah drastis ketika ia dipindah tugaskan ke Tanah Merah, Digul (Boven Digoel) pada tahun 1941. Di sana, ia ditugaskan sebagai wakil komandan polisi jaga yang bertugas mengawasi para tahanan politik Indonesia yang diasingkan oleh Belanda.

Pertemuan dengan para tahanan politik ini menjadi titik balik penting dalam hidup Marthen Indey. Ia banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional yang dibuang ke Digul, salah satunya Sugoro Atmoprasojo. Dari mereka, Marthen mendengar langsung kisah-kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan memahami cita-cita luhur untuk membebaskan seluruh Nusantara dari cengkeraman penjajah, termasuk tanah kelahirannya, Papua. Interaksi ini menumbuhkan jiwa nasionalisme yang membara dalam dirinya.

 

Perjuangan Melawan Penjajah dan Upaya Integrasi

 

Setelah mendengar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Marthen Indey semakin mantap untuk memperjuangkan Papua agar menjadi bagian integral dari Republik Indonesia.

  1. Pemberontakan dan Penangkapan (Desember 1945):

    Marthen Indey bersama puluhan anak buahnya dan para pejuang lainnya merencanakan pemberontakan untuk mengusir Belanda dari Papua. Mereka berusaha menangkap aparat pemerintah Belanda yang semena-mena. Namun, rencana ini tercium oleh pihak Belanda. Pada 14 Desember 1945, Belanda melakukan penangkapan besar-besaran di Jayapura, melibatkan ratusan orang termasuk Marthen Indey, Sugoro Atmoprasojo, dan Silas Papare. Marthen Indey dijatuhi hukuman penjara dan sempat ditahan di berbagai tempat seperti Saparu, Sorong-Doom, hingga diasingkan ke Makassar. Namun, penahanan ini tidak menyurutkan semangat juangnya.

  2. Bergabung dengan Organisasi Politik:

    Pada tahun 1946, setelah dibebaskan, Marthen Indey aktif dalam jalur politik. Ia bergabung dengan Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang kemudian dikenal sebagai Partai Indonesia Merdeka (PIM). Ia bahkan menjabat sebagai ketua PIM, menggunakan organisasi ini sebagai wadah untuk menyebarkan semangat nasionalisme dan keinginan untuk bergabung dengan Republik Indonesia di kalangan masyarakat Papua.

  3. Melawan Kebijakan Pemisahan Belanda:

    Marthen Indey dan para kepala suku di Papua secara terbuka melakukan aksi protes terhadap pemerintah Belanda yang berencana memisahkan Irian Barat dari Indonesia. Mereka bersikeras bahwa Papua adalah bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia.

  4. Peran dalam Operasi Trikora:

    Pada awal tahun 1960-an, ketika ketegangan antara Indonesia dan Belanda memuncak terkait status Irian Barat, Presiden Soekarno mencanangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 19 Desember 1961. Trikora menyerukan:

    • Penggagalan pembentukan negara boneka Papua bentukan Belanda.
    • Pengibaran Sang Merah Putih di Irian Barat.
    • Persiapan mobilisasi umum.

    Dalam konteks Trikora, Marthen Indey memainkan peran yang sangat krusial. Ia membentuk dan memimpin kekuatan gerilya di pedalaman Papua, yang kemudian membantu pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam operasi pembebasan Irian Barat. Ia menyediakan informasi intelijen, membimbing pasukan Indonesia di medan yang sulit, dan menggalang dukungan dari masyarakat lokal. Pada tahun 1962, Marthen Indey juga merumuskan kekuatan gerilya dan membantu menyelamatkan anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang tersesat di Irian Barat.

  5. Piagam Kota Baru:

    Pada tahun 1962, Marthen Indey menyampaikan Piagam Kota Baru kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pemerintah Indonesia. Piagam ini secara tegas menyatakan keinginan bulat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah kesatuan Republik Indonesia, menolak segala upaya Belanda untuk memecah belah. Ini adalah salah satu bentuk perjuangan diplomatik yang ia lakukan.

 

Peran Pasca-Integrasi dan Akhir Hayat

 

Setelah penyerahan Irian Barat kepada Indonesia melalui Perjanjian New York (1962) dan Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) pada tahun 1969, Marthen Indey terus mengabdi kepada negara.

  • Pada periode 1963-1968, ia diangkat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mewakili Irian Barat.
  • Ia juga dipercaya menjabat sebagai kontrolir berpangkat Mayor Tituler yang diperbantukan pada Residen Jayapura.
  • Marthen Indey juga sempat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada periode 1959-1965.

Marthen Indey meninggal dunia pada tanggal 17 Juli 1986 di usia 74 tahun. Ia dimakamkan di kampung halamannya di Doromena, Jayapura.

 

Warisan dan Penghargaan

 

Marthen Indey adalah salah satu pahlawan sejati dari Papua yang mendedikasikan hidupnya untuk integrasi tanah kelahirannya ke dalam NKRI.

  • Pahlawan Nasional Indonesia: Atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam perjuangan dan integrasi Papua, Marthen Indey secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 077/TK/1993 tanggal 14 September 1993 (bersama Frans Kaisiepo dan Silas Papare).
  • Simbol Persatuan: Namanya menjadi simbol persatuan dan semangat nasionalisme bagi masyarakat Papua dan seluruh Indonesia.
  • Diabadikan dalam Sejarah: Namanya diabadikan dalam berbagai bentuk, seperti Rumah Sakit TNI AD Marthen Indey di Jayapura dan monumen Marthen Indey di pusat Kota Jayapura, sebagai pengingat akan perjuangannya yang tak kenal lelah.

Marthen Indey adalah bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan dan nasionalisme menjangkau seluruh pelosok Nusantara, bersatu padu dalam cita-cita luhur Republik Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here