Hessa Perlompongan (Humas). Halaman Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Asahan mendadak riuh dengan tepuk tangan yang meriah pada Kamis pagi (12/02/2026). Suasana khidmat menyelimuti kegiatan pembiasaan pembacaan piadato saat dua siswa dari kelas 4C tampil .Bukan sekadar membacakan piadto, kedua siswa ini membawakan pidato kolaboratif yang sarat makna dengan tema Rahasia Besar di Balik Pensil dan Pulpen.
Kedua siswa tersebut adalah Zahwa Aqila dan Muhammad Zaki Alfatih Riadi. Dengan seragam madrasah yang rapi dan kepercayaan diri yang luar biasa, mereka berhasil menyihir ratusan pasang mata yang hadir.
Tampil sebagai pembicara pertama, Zahwa Aqila mengupas tuntas filosofi sebuah pensil. Pensil bukan sekadar kayu berisi karbon, melainkan simbol kerendahan hati dan kemauan untuk belajar.
Rahasia besar pertama sebuah pensil adalah keberadaan penghapus di ujungnya,pensil mengajarkan kita bahwa sebagai manusia, kita pasti pernah salah. Namun, Tuhan memberikan kita kesempatan untuk menghapus kesalahan itu melalui pintu taubat dan memperbaikinya kembali,” Ujar Zahwa dengan suara lantang namun lembut.
Suasana menjadi tambah semangat lagi saat Muhammad Zaki mengambil alih mikrofon. Jika pensil bicara soal proses belajar, Zaki membawa perspektif yang lebih dalam tentang masa depan melalui filosofi pulpen.
Zaki menjelaskan bahwa perpindahan siswa dari menggunakan pensil ke pulpen di kelas empat adalah sebuah tonggak sejarah kecil dalam hidup seorang pelajar.
“Rahasia besar pulpen adalah tentang kejujuran dan keteguhan hati. Sekali tinta tertuang, ia menjadi sejarah. Maka, pastikan sejarah yang kita tulis adalah kebaikan,” Zaki yang langsung disambut takbir oleh para hadirin.
Wali kelas 4C MIN 5 Asahan, Peristiwani, S.Pd., menyatakan kekagumannya atas penampilan anak didiknya. Menurutnya, ide pidato ini muncul dari pengamatan sederhana di dalam kelas saat anak-anak mulai belajar menulis menggunakan pulpen secara rutin.
Kepala MIN 5 Tohiruddin Hasibuan, S.Pd., M.M.,saat dikonfirmasi secara terpisah juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya. “Apa yang disampaikan anak kami adalah refleksi karakter yang luar biasa. Di madrasah ini, kita tidak hanya mencetak siswa yang pintar secara akademis, tapi juga yang memiliki kedalaman spiritual dan akhlak seperti yang mereka gambarkan lewat filosofi alat tulis tadi,” ungkap beliau.
Acara ditutup dengan doa bersama. Zahwa dan Zaki tampak tersenyum bangga, membuktikan bahwa dari benda sekecil pensil dan pulpen, tersimpan pelajaran hidup yang sangat besar bagi mereka yang mau merenung.(nm)





