Jenderal Besar Abdul Haris Nasution Bapak Tentara Nasional Indonesia dan Pejuang Tangguh Kemerdekaan

0
2200

Tentu, ini adalah biografi lengkap dan rinci mengenai Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dan perjuangannya melawan penjajah.


 

Jenderal Besar Abdul Haris Nasution: Arsitek Gerilya dan Penjaga Kedaulatan Bangsa

 

Jenderal Besar TNI (Purn.) Abdul Haris Nasution, atau yang akrab disapa A.H. Nasution, adalah salah satu tokoh militer dan negarawan paling berpengaruh dalam sejarah modern Indonesia. Dijuluki sebagai “Bapak Tentara Nasional Indonesia” dan “Bapak Gerilya Indonesia”, kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan, pembentukan doktrin militer, dan menjaga keutuhan bangsa sangatlah monumental. Beliau adalah salah satu dari sedikit perwira tinggi yang dianugerahi pangkat tertinggi, Jenderal Besar Bintang Lima.

 

Latar Belakang dan Awal Kehidupan

 

Abdul Haris Nasution lahir pada 3 Desember 1918 di Desa Huta Pungkut, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga petani Batak Mandailing yang taat beragama. Sejak muda, Nasution menunjukkan minat dan bakat yang besar dalam pendidikan.

Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah, Nasution melanjutkan studinya di Sekolah Guru (Hollandsch Inlandsche Kweekschool/HIK) di Bandung dan lulus pada tahun 1938. Ia sempat mengabdi sebagai guru di Bengkulu. Namun, gejolak politik dan semangat nasionalisme yang membara dalam dirinya mendorongnya untuk beralih ke jalur militer. Pada tahun 1940, ia mendaftar di Akademi Militer Kerajaan Belanda (Koninklijk Nederlands Indisch Leger/KNIL) di Bandung. Hanya dua tahun berselang, pada tahun 1942, ia berhasil menyelesaikan pendidikan perwira, sesaat sebelum Jepang menduduki Indonesia.

 

Masa Pendudukan Jepang dan Kelahiran TNI

 

Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), Nasution tidak bergabung dengan formasi militer bentukan Jepang seperti PETA atau Heiho. Namun, latar belakang militernya dari KNIL menjadi modal berharga setelah proklamasi kemerdekaan.

Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, A.H. Nasution langsung terjun aktif dalam pembentukan dan pengembangan badan-badan pertahanan negara. Ia dengan cepat bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lalu Tentara Republik Indonesia (TRI), dan akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kemampuan kepemimpinan dan strategi militernya yang menonjol membuat kariernya meroket.

 

Perjuangan Melawan Penjajah (1945-1949): Arsitek Perang Gerilya

 

Peran A.H. Nasution dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi Belanda adalah salah satu yang paling vital.

  1. Panglima Divisi Siliwangi (1946-1948):

    Pada tahun 1946, Nasution diangkat menjadi Panglima Divisi III (kemudian Divisi Siliwangi), salah satu kesatuan militer terpenting yang bertanggung jawab atas wilayah Jawa Barat. Di bawah kepemimpinannya, Divisi Siliwangi terlibat dalam berbagai pertempuran sengit melawan tentara Sekutu (khususnya Inggris) dan Belanda (NICA) yang berupaya kembali menguasai Indonesia.

  2. Merumuskan Doktrin Perang Gerilya dan “Pokok-pokok Gerilya”:

    Titik balik terpenting dalam perjuangan Nasution adalah saat Agresi Militer Belanda II dilancarkan pada 19 Desember 1948. Belanda berhasil menduduki Yogyakarta (ibu kota Republik Indonesia kala itu) dan menangkap para pemimpin negara, termasuk Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Dalam situasi genting ini, Nasution dengan cepat mengeluarkan “Perintah Siasat No. 1”.

    • “Perintah Siasat No. 1”: Instruksi bersejarah ini memerintahkan seluruh kekuatan TNI untuk meninggalkan kota-kota dan memulai perang gerilya secara total di seluruh wilayah Republik. Dokumen ini menjadi pedoman utama bagi perjuangan bersenjata Indonesia di tengah pendudukan Belanda.
    • Konsep Perang Rakyat Semesta: Nasution adalah penggagas utama konsep “Perang Rakyat Semesta”, sebuah strategi pertahanan total yang melibatkan seluruh komponen masyarakat, bukan hanya militer. Rakyat sipil diharapkan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan, baik melalui dukungan logistik, intelijen, maupun perlawanan bersenjata. Filosofi ini kemudian ia tuangkan dalam karyanya yang monumental, “Pokok-pokok Gerilya” (Fundamentals of Guerrilla Warfare), sebuah buku yang hingga kini menjadi acuan studi militer di banyak negara karena relevansinya dalam perang non-konvensional.
    • Long March Siliwangi: Pada awal 1949, Divisi Siliwangi di bawah kepemimpinan Nasution melakukan Long March yang legendaris dari Jawa Tengah dan Jawa Timur kembali ke markasnya di Jawa Barat. Gerakan ini bukan hanya manuver militer, tetapi juga simbol perlawanan yang tak pernah padam, menunjukkan kemampuan TNI untuk terus bergerak dan melawan meskipun di bawah tekanan musuh.

 

Karier Pasca Kemerdekaan dan Ujian Nasional

 

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada akhir 1949, Nasution memegang peran sentral dalam membangun dan mengonsolidasi TNI sebagai kekuatan profesional.

  1. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD): Pada tahun 1950, Nasution diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pertama. Ia bertanggung jawab penuh dalam reorganisasi tentara, mengintegrasikan berbagai laskar perjuangan ke dalam satu kesatuan, dan mengatasi berbagai pemberontakan di dalam negeri (seperti DI/TII, PRRI/Permesta) yang mengancam keutuhan bangsa.
  2. Menteri Pertahanan dan Keamanan: Pada periode 1959-1966, Nasution menjabat sebagai Menteri Koordinator Keamanan Nasional/Menteri Pertahanan dan Keamanan, posisi yang memberinya pengaruh besar dalam kebijakan pertahanan dan keamanan negara.
  3. Peristiwa G30S/PKI (1965): Peristiwa Gerakan 30 September/PKI adalah salah satu episode paling tragis dalam hidup Nasution. Ia menjadi salah satu target utama penculikan dan pembunuhan oleh PKI. Meskipun ia berhasil lolos dari upaya penculikan tersebut, putrinya yang masih kecil, Ade Irma Suryani Nasution, gugur tertembak, dan ajudannya, Lettu Pierre Tendean, diculik dan dibunuh. Peristiwa ini sangat memengaruhi arah politik dan militer Indonesia. Nasution kemudian memainkan peran krusial dalam menumpas gerakan G30S/PKI dan mengamankan stabilitas negara.

 

Pensiun dan Pengakuan

 

Setelah melewati berbagai badai politik dan militer, Nasution pensiun dari dinas militer aktif pada tahun 1972. Meskipun tidak lagi berada di garis depan kekuasaan, ia tetap menjadi figur yang disegani dan sering memberikan pandangannya tentang arah bangsa.

Sebagai pengakuan atas jasa-jasanya yang tak terhingga, pada tahun 1997, Presiden Soeharto menganugerahkan pangkat Jenderal Besar Bintang Lima kepadanya, menjadikan beliau salah satu dari sedikit perwira tinggi yang mencapai pangkat tertinggi di TNI.

A.H. Nasution meninggal dunia pada 6 September 2000 di Jakarta pada usia 81 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.

 

Warisan dan Penghargaan

 

Jenderal Besar Abdul Haris Nasution meninggalkan warisan yang sangat penting bagi Indonesia:

  • Pencetus Doktrin Perang Gerilya: Konsep dan aplikasinya dalam perjuangan kemerdekaan menjadi model bagi banyak negara dan salah satu pilar pertahanan Indonesia.
  • Pembangun TNI: Perannya dalam membentuk, membangun, dan profesionalisasi Angkatan Darat dari nol sangat fundamental.
  • Pejuang Kemerdekaan Sejati: Dedikasinya dalam mempertahankan kedaulatan bangsa dari penjajah tidak diragukan lagi.
  • Negarawan dan Pemikir: Selain sebagai militer, ia adalah seorang penulis produktif yang menghasilkan banyak karya tentang strategi militer, sejarah, dan kenegaraan.

Jenderal Besar A.H. Nasution adalah simbol keberanian, kecerdasan strategis, dan dedikasi tanpa batas kepada Tanah Air. Kisah hidupnya adalah inspirasi tentang bagaimana seorang anak bangsa dapat mengukir sejarah dan memastikan kemerdekaan serta kedaulatan bangsanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here