Jadi Pembina Upacara, Guru MIN 5 Asahan Ingatkan Kembali Kekuatan “Empat Kata Ajaib” untuk Tanamkan Budi Pekerti

0
132

Hessa Perlompongan (Humas). Ada yang istimewa dalam pelaksanaan upacara bendera di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Asahan pada Senin pagi, 13 Oktober 2025. Bertindak sebagai pembina upacara adalah Ibu Rusminah,S.Pd.,  salah seorang guru r di madrasah tersebut. Dalam amanatnya yang hangat dan inspiratif, ia mengangkat tema “Empat Kata Ajaib” sebagai pengingat untuk memperkuat fondasi akhlak dan budi pekerti para siswa.

Upacara yang berlangsung di lapangan utama MIN 5 Asahan ini menjadi sarana pendidikan karakter yang efektif. Melalui tema sederhana namun mendalam tersebut, pihak madrasah, yang diwakili oleh seorang guru, berupaya membudayakan kembali nilai-nilai kesopanan di kalangan siswa sebagai bekal penting dalam kehidupan sosial mereka di masa depan.

Sejak pukul 07.15 WIB, ratusan siswa dari kelas I hingga VI telah berbaris dengan rapi, mengenakan seragam putih-merah lengkap. Para petugas upacara yang terdiri dari siswa-siswi kelas V menjalankan tugas mereka dengan penuh disiplin dan tanggung jawab. Suasana khidmat begitu terasa saat sang Merah Putih dikibarkan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan serempak oleh seluruh peserta upacara.

Momen puncak yang dinantikan tiba saat pembina upacara, Rusminah, S.Pd., melangkah ke podium untuk menyampaikan amanat. Dikenal sebagai sosok guru yang ramah dan dekat dengan siswa, beliau berhasil mencairkan suasana formal upacara dengan pendekatan yang interaktif.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Anak-anakku, calon pemimpin masa depan yang ibu cintai dan banggakan,” sapa Rusminah, mengawali amanatnya dengan senyum yang khas. “Pagi ini, Ibu tidak akan berbicara panjang lebar tentang peraturan. Ibu ingin mengajak kalian semua untuk mengingat kembali empat kata yang sangat sederhana, tapi memiliki kekuatan seperti sihir. Itulah mengapa kita menyebutnya ‘Empat Kata Ajaib’.”

Beliau kemudian mengajak para siswa untuk menebak dan menyebutkan keempat kata tersebut. Suara riuh para siswa yang antusias menjawab membuat suasana lapangan menjadi lebih hidup. Pak Ridwan lalu menguraikan makna dan pentingnya setiap kata.

“Yang pertama adalah Tolong. Ketika kita butuh bantuan, sekecil apapun, biasakanlah untuk mengawalinya dengan kata ‘tolong’. Kata ini mengajarkan kita untuk rendah hati dan menghargai orang lain,” jelasnya sambil memberikan contoh, “Misalnya, ‘Teman, tolong ambilkan pensilku yang jatuh’.”

“Yang kedua adalah Maaf. Ini adalah kata untuk para pemberani. Hanya anak-anak yang hebat dan bertanggung jawab yang berani mengucapkan ‘maaf’ ketika mereka sadar telah melakukan kesalahan. Jangan malu, karena meminta maaf itu mulia.”

Amanat dilanjutkan dengan kata ketiga dan keempat. “Kata ajaib yang ketiga adalah ‘Terima Kasih. Selalu ucapkan kata ini setiap kali kalian menerima bantuan atau kebaikan, baik dari guru, orang tua di rumah, maupun teman-temanmu. Ini adalah cara kita bersyukur. Dan yang terakhir, ‘Permisi’. Sebuah kata singkat yang menunjukkan sopan santun kita saat mau lewat di depan orang lain atau ketika hendak bertanya.”

Amanat tersebut mendapat sambutan positif, tidak hanya dari siswa tetapi juga dari jajaran dewan guru lainnya,yang turut mengikuti upacara, menyatakan apresiasinya.

Para siswa pun tampak antusias dan memahami pesan yang disampaikan. Upacara bendera di MIN 5 Asahan pagi itu berhasil mengubah seremoni rutin menjadi sebuah sesi pembelajaran karakter yang efektif, meninggalkan pesan mendalam bagi seluruh warga madrasah tentang kekuatan dari kata-kata sederhana yang mampu membangun peradaban yang lebih baik.(nm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here