Hessa Perlompongan (Humas). Semangat pelestarian budaya dan kearifan lokal bergelora di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Asahan. Pada hari yang penuh keceriaan, siswa-siswi kelas 5B sukses melaksanakan puncak kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Kearifan Lokal. Sebagai bentuk nyata pembelajaran, mereka menampilkan dua tarian tradisional daerah yang ikonik Tari Sinanggar Tulo untuk siswi perempuan dan Tari Cublak-Cublak Suweng untuk siswa laki-laki.Sabtu (29/11/2025).
Kegiatan P5 merupakan implementasi dari Kurikulum Merdeka yang bertujuan untuk membentuk Profil Pelajar Pancasila pada diri peserta didik. Dalam proyek bertema kearifan lokal ini, para siswa tidak hanya diajarkan untuk menghafal sejarah, tetapi juga untuk merasakan dan mempraktikkan langsung kekayaan budaya Indonesia.
Kepala MIN 5 Asahan, Tohiruddin Hasibuan, S.Pd., M.M., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi. “P5 ini adalah jembatan bagi anak-anak kita untuk mencintai Indonesia seutuhnya. Melalui tarian ini, mereka belajar tentang kerjasama, disiplin, dan yang paling penting, rasa bangga terhadap warisan budaya bangsa. Tema kearifan lokal ini kami angkat dengan keberagaman budayanya, adalah ladang pembelajaran yang kaya”, ujar Tohir.
Kelompok siswi perempuan kelas 5 B tampil memukau dengan Tari Sinanggar Tulo. Tarian yang berasal dari Tapanuli, Sumatera Utara ini, dikenal dengan irama gondang Batak yang ceria dan lincah. Dengan balutan pakaian adat yang mempesona, para siswi memperagakan gerakan yang energik dan penuh senyum.
Sementara itu, kelompok siswa laki-laki menyuguhkan penampilan yang tak kalah menarik dengan Tari Cublak-Cublak Suweng. Meskipun tarian ini sering diasosiasikan dengan Jawa Tengah, penampilannya disajikan dengan interpretasi yang segar dan penuh makna. Tarian ini diangkat dari permainan tradisional, yang ternyata menyimpan filosofi mendalam tentang pencarian harta sejati yang tidak terletak pada kekayaan material.
Para siswa laki-laki tampil dengan ekspresi serius dan gerakan yang lebih bersifat bermain, mengikuti melodi tembang dolanan anak-anak yang khas. Mereka mengenakan pakaian yang sederhana namun identik dengan suasana permainan tradisional, berhasil menciptakan suasana nostalgia dan hangat.
Keberhasilan pementasan ini tidak lepas dari peran penting Wali Kelas 5 B, Muhammad Riva’I, S,Pd., beliau menyampaikan rasa bangga yang mendalam atas dedikasi dan kolaborasi yang ditunjukkan oleh murid-muridnya.
“Saya sangat terharu melihat totalitas dan kerja keras anak-anak. Mereka tidak hanya menghafal gerakan, tetapi mereka menghidupi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Siswi-siswi belajar kelincahan dan keceriaan Batak melalui Sinanggar Tulo, sementara siswa-siswa belajar filosofi hidup sederhana melalui Cublak-Cublak Suweng,” ujar Rivai.
Acara diakhiri dengan tepuk tangan meriah, MIN 5 Asahan berharap kegiatan P5 ini dapat terus memupuk generasi muda yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan bangga akan identitas budaya Indonesia.(nm)
