Hessa Perlompongan (Humas). Suasana riang gembira dan sorak-sorai penuh semangat menggema di lapangan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Asahan pada pagi hari ini. Dalam rangka menyambut dan memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, pihak sekolah resmi membuka rangkaian perlombaan tradisional antarsiswa. Hari pertama perayaan ini sukses menghadirkan gelak tawa, persaingan sehat, dan kebersamaan yang hangat di lingkungan madrasah.Kamis (13/08/2026)
Menariknya, perayaan tahun ini terasa jauh lebih istimewa dan semarak. Pasalnya, acara ini turut dihadiri dan dibantu oleh barisan mahasiswa dari Universitas Asahan (UNA) dan Universitas Royal Kisaran yang tengah melaksanakan program pengabdian. Kehadiran para mahasiswa perguruan tinggi ini sukses membawa energi positif dan menambah kehangatan di lingkungan madrasah.
Sejak bel masuk berbunyi, para siswa sudah berkumpul di lapangan dengan mengenakan pakaian olahraga kebanggaan mereka. Wajah-wajah antusias terlihat jelas, menantikan perlombaan apa saja yang akan mereka ikuti.
Rangkaian acara hari pertama dibuka dengan perlombaan legendaris yang selalu ada di setiap perayaan 17 Agustus, yakni lomba makan kerupuk. Lomba ini dikhususkan bagi siswa-siswi kelas 1.
Panitia yang terdiri dari para guru telah mengikatkan kerupuk-kerupuk putih berukuran sedang pada seutas tali rafia yang dibentangkan di tengah lapangan. Tingginya pun sudah disesuaikan dengan postur tubuh mungil anak-anak kelas 1.
Keseruan langsung pecah. Tangan para peserta mungil ini harus berada di belakang punggung, sementara mulut mereka berusaha keras menggapai kerupuk yang terus bergoyang tertiup angin. Beberapa anak tampak melompat-lompat kecil karena kesulitan menangkap kerupuk.Ada pula yang dengan cerdik menahan kerupuk menggunakan hidung sebelum menggigitnya.
Kehadiran mahasiswa UNA dan STMIK Royal yang ikut menyoraki dan mendokumentasikan momen lucu ini membuat anak-anak semakin antusias dan bersemangat.Sorak-sorai kakak kelas dan para guru yang memberikan semangat membuat suasana semakin riuh dan menggemaskan.
Setelah keseruan lomba makan kerupuk selesai, giliran siswa-siswi kelas 2 yang unjuk gigi dalam lomba membawa guli (kelereng) di dalam sendok. Berbeda dengan lomba sebelumnya yang memancing tawa karena kepolosannya, lomba ini menuntut tingkat konsentrasi dan keseimbangan yang tinggi.
Para peserta bersiap di garis start dengan gagang sendok di gigit di mulut, sementara sebuah guli diletakkan di ujung sendok tersebut.
“Ayo, pelan-pelan saja, jangan sampai jatuh!” teriak salah satu wali kelas memberikan instruksi dari pinggir lapangan.
Ketegangan terasa saat beberapa siswa berjalan terlalu cepat hingga gulinya terjatuh dan mereka harus mengulang kembali dari titik awal. Namun, semangat pantang menyerah khas kemerdekaan sangat terlihat. Siswa yang berhasil mencapai garis finish tanpa menjatuhkan guli langsung disambut tepuk tangan meriah dari para penonton.
Kemeriahan hari pertama tidak hanya menjadi milik para siswa. Sebagai penutup rangkaian lomba hari ini, panitia memberikan kejutan dengan menggelar lomba joget balon yang wajib diikuti oleh dewan guru MIN 5 Asahan.
Sontak, pengumuman ini membuat seluruh siswa bersorak gembira. Para guru dipasangkan berdua-dua. Mereka harus menahan sebuah balon di antara dahi mereka sambil berjoget mengikuti irama musik dangdut dan lagu daerah yang diputar oleh panitia.
Aturannya sangat ketat balon tidak boleh jatuh atau pecah, dan peserta tidak boleh menyentuh balon dengan tangan.Ketika musik dimainkan, para guru harus berjoget dengan luwes.Ketika musik tiba-tiba dihentikan, mereka harus mematung.
Aksi kocak bapak dan ibu guru yang biasanya tampil wibawa di depan kelas ini sukses mengundang gelak tawa luar biasa dari para siswa. Ada pasangan guru yang berjalan menyamping untuk menyeimbangkan balon, ada pula yang tak kuasa menahan tawa hingga balonnya merosot jatuh. Lomba ini benar-benar menghapus jarak antara pendidik dan peserta didik, menyisakan kehangatan keluarga besar MIN 5 Asahan.
Kepala MIN 5 Asahan, dalam sambutan singkatnya di sela-sela acara, menyampaikan apresiasi yang luar biasa terhadap antusiasme seluruh warga sekolah.
Beliau menekankan bahwa perlombaan ini bukan sekadar ajang untuk mencari pemenang atau bersenang-senang semata, melainkan sebuah media pembelajaran karakter. Melalui lomba-lomba tradisional ini, siswa diajarkan tentang nilai-nilai sportivitas, pantang menyerah, kerja sama, dan kecintaan terhadap budaya bangsa dalam memperingati hari kemerdekaan.
Rangkaian perlombaan di MIN 5 Asahan masih akan terus berlanjut pada hari-hari berikutnya dengan berbagai cabang lomba lain yang tak kalah menarik untuk siswa kelas tinggi. Hari pertama ini telah menjadi pembuka yang manis dan tak terlupakan bagi seluruh keluarga besar madrasah.(nm)





