I Gusti Ketut Pudja: Arsitek Proklamasi dari Timur dan Pejuang Kedaulatan Indonesia
I Gusti Ketut Pudja adalah seorang tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam peranannya mewakili wilayah Indonesia bagian timur (Nusa Tenggara) dalam proses proklamasi kemerdekaan. Beliau adalah salah satu dari sedikit tokoh yang hadir di rapat-rapat penting Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), serta menjadi bagian dari saksi sejarah pembacaan teks proklamasi. Perjuangannya tidak hanya terbatas pada medan perang, tetapi juga melalui jalur diplomasi, hukum, dan pembangunan pemerintahan di masa-masa awal Republik.
Latar Belakang dan Kehidupan Awal
I Gusti Ketut Pudja dilahirkan pada tanggal 19 Mei 1908 di Singaraja, Bali. Ia berasal dari keluarga bangsawan dan terpandang di Buleleng. Sejak muda, Pudja menunjukkan kecerdasan luar biasa dan minat pada pendidikan. Ia menempuh pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Singaraja. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Malang, Jawa Timur.
Pudja kemudian melanjutkan studi hukumnya di Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia (Jakarta), sebuah lembaga pendidikan hukum terkemuka di Hindia Belanda. Ia berhasil meraih gelar Meester in de Rechten (Mr.), yang menunjukkan kemampuan intelektualnya yang tinggi. Latar belakang pendidikan hukum inilah yang sangat membantunya dalam perjuangan politik dan pembangunan negara di kemudian hari.
Setelah lulus, I Gusti Ketut Pudja mengabdi sebagai pegawai pemerintahan Hindia Belanda di berbagai daerah, termasuk di Buleleng, Lombok, dan Sumbawa. Meskipun bekerja di bawah sistem kolonial, ia secara diam-diam menanamkan semangat nasionalisme dan berupaya memperbaiki nasib rakyat.
Peran Kunci dalam Persiapan Kemerdekaan (1945)
Peran I Gusti Ketut Pudja dalam proses kemerdekaan Indonesia sangat vital, terutama pada tahun 1945:
- Anggota BPUPKI dan PPKI:
Sebagai seorang cendekiawan pribumi yang berpengaruh dan berwawasan luas, I Gusti Ketut Pudja terpilih menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk Jepang pada Maret 1945. Dalam BPUPKI, ia aktif terlibat dalam perdebatan dan perumusan dasar negara.
Setelah BPUPKI dibubarkan, ia kemudian terpilih menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk pada Agustus 1945. Dalam PPKI, perannya menjadi lebih krusial, terutama sebagai perwakilan dari Sunda Kecil (Nusa Tenggara). Kehadirannya memastikan bahwa suara dan aspirasi dari wilayah timur Indonesia juga terwakili dalam persiapan kemerdekaan.
- Saksi Proklamasi Kemerdekaan:
Pada tanggal 17 Agustus 1945, I Gusti Ketut Pudja adalah salah satu dari sedikit tokoh yang hadir di kediaman Soekarno di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, dan menyaksikan langsung pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Momen ini menjadi puncak dari perjuangan panjang para tokoh bangsa, termasuk dirinya.
Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan (1945-1949)
Setelah proklamasi, tugas I Gusti Ketut Pudja tidak berhenti. Ia dihadapkan pada tantangan besar untuk mengkonsolidasi kekuasaan Republik dan menghadapi upaya Belanda yang ingin kembali menjajah.
- Gubernur Sunda Kecil Pertama:
Pada rapat PPKI tanggal 22 Agustus 1945, I Gusti Ketut Pudja diangkat sebagai Gubernur Sunda Kecil yang pertama. Wilayah Sunda Kecil sangat luas, meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, dan Timor. Tugasnya sangat berat: mendirikan pemerintahan Republik Indonesia di wilayah tersebut di tengah gejolak revolusi dan kembalinya Belanda.
Pudja segera kembali ke Singaraja, Bali, untuk mulai mengorganisir pemerintahan daerah. Ia membentuk Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah dan menggerakkan rakyat untuk mendukung Republik. Ia berupaya keras menyebarluaskan berita proklamasi dan mengkonsolidasi kekuatan, meskipun seringkali menghadapi keterbatasan sumber daya dan perlawanan dari pihak pro-Belanda.
- Menghadapi Agresi Belanda dan Negara Boneka:
Belanda datang kembali ke Indonesia dengan membonceng Sekutu. Di Bali dan Nusa Tenggara, Belanda berupaya membentuk negara-negara bagian boneka untuk melemahkan Republik Indonesia. I Gusti Ketut Pudja, meskipun seringkali tidak bersenjata lengkap, tetap teguh pada pendiriannya untuk mempertahankan kedaulatan RI.
Ia melakukan perlawanan non-fisik melalui jalur politik dan diplomasi. Ia secara tegas menolak pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) yang merupakan bagian dari skema federal Belanda, meskipun pada akhirnya ia terpaksa mengakui keberadaan NIT sebagai realitas politik yang harus dihadapi. Namun, di dalam NIT pun, Pudja tetap menjadi suara hati nurani yang pro-Republik.
- Peran dalam Konferensi Meja Bundar (KMB):
Sebagai salah satu tokoh dari wilayah timur, I Gusti Ketut Pudja terlibat dalam proses-proses penting menjelang dan selama Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada akhir 1949. Ia berupaya memastikan bahwa aspirasi rakyat dari wilayah timur juga diperhitungkan dalam perundingan penyerahan kedaulatan.
Peran Pasca-Kemerdekaan dan Akhir Hayat
Setelah penyerahan kedaulatan dan terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS) kemudian kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), I Gusti Ketut Pudja terus mengabdi kepada negara. Ia pernah menjabat sebagai Inspektur Urusan Peradilan pada Kementerian Dalam Negeri, menunjukkan keahliannya di bidang hukum dan pemerintahan.
I Gusti Ketut Pudja meninggal dunia pada tanggal 1 Mei 1976 di Jakarta pada usia 67 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.
Warisan dan Penghargaan
I Gusti Ketut Pudja adalah sosok pahlawan yang mungkin tidak sepopuler pahlawan bersenjata, namun kontribusinya sangat fundamental dalam pembentukan dan pembangunan negara Indonesia:
- Arsitek Proklamasi dari Timur: Perannya sebagai perwakilan Sunda Kecil di BPUPKI dan PPKI sangat krusial dalam memastikan keterlibatan seluruh wilayah Indonesia dalam proses proklamasi.
- Gubernur Pertama Sunda Kecil: Ia adalah pemimpin pertama yang berusaha membangun pemerintahan RI di wilayah timur, menghadapi berbagai tantangan berat.
- Pejuang di Jalur Intelektual dan Politik: Ia membuktikan bahwa perjuangan melawan penjajah tidak selalu dengan senjata, tetapi juga dengan kecerdasan, diplomasi, dan penegakan hukum.
Atas jasa-jasa dan pengabdiannya yang luar biasa bagi bangsa dan negara, I Gusti Ketut Pudja secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 8 November 2017 oleh Presiden Joko Widodo. Namanya kini dikenang sebagai salah satu arsitek bangsa yang turut meletakkan fondasi kemerdekaan Indonesia.





