Raden Mattaher: Singo Kumpeh, Panglima Perang Jambi yang Ditakuti Belanda

0
628

 

Raden Mattaher: Singo Kumpeh, Panglima Perang Jambi yang Ditakuti Belanda

 

Raden Mattaher adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari Jambi yang dikenal atas keberanian, kecerdasan strateginya, dan kegigihannya dalam memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dijuluki “Singo Kumpeh” karena keberingasannya di medan perang layaknya singa, ia menjadi momok yang paling ditakuti oleh pasukan kolonial Belanda di wilayah Jambi.


 

Latar Belakang dan Kehidupan Awal

 

Raden Mattaher (beberapa sumber menyebut lahir sekitar tahun 1871) berasal dari keluarga bangsawan Kesultanan Jambi. Ia adalah putra dari Raden Kusen bin Pangeran Adi, yang merupakan saudara kandung dari Sultan Thaha Saifuddin, seorang pahlawan nasional lainnya dari Jambi. Dengan demikian, Raden Mattaher adalah cucu kemenakan dari Sultan Thaha Saifuddin.

Sejak usia muda, Raden Mattaher telah menunjukkan jiwa kesatria, keberanian, dan kecerdasan. Ia tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda yang terus-menerus berusaha menguasai Kesultanan Jambi yang kaya raya. Latar belakang keluarganya yang merupakan bagian dari dinasti pejuang, menanamkan jiwa patriotisme yang mendalam pada dirinya.

Raden Mattaher tidak memikul jabatan formal di dalam kesultanan pada awalnya, namun kemampuannya dalam memimpin dan mengatur strategi perang membuatnya menjadi salah satu panglima andalan Sultan Thaha Saifuddin.


 

Perjuangan Melawan Penjajah: “Singo Kumpeh” dan Strategi Gerilya Sungai

 

Perjuangan Raden Mattaher erat kaitannya dengan Perang Jambi, sebuah konflik berkepanjangan antara Kesultanan Jambi dan Belanda yang berlangsung selama puluhan tahun. Ia memimpin perlawanan bersenjata yang fokus pada upaya mengusir Belanda dari tanah Jambi.

  1. Panglima Perang Sultan Thaha Saifuddin:

    Raden Mattaher menjadi panglima perang utama yang sangat dipercaya oleh Sultan Thaha Saifuddin. Keduanya membentuk duo yang tangguh dalam menghadapi agresi Belanda. Raden Mattaher menggantikan ayahnya, Raden Kusen, yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji, sebagai pemimpin laskar.

  2. Strategi “Gerilya Sungai” yang Inovatif:

    Salah satu ciri khas dan keunggulan taktik Raden Mattaher adalah “strategi gerilya sungai”. Ia menyadari bahwa Sungai Batanghari adalah jalur vital bagi Belanda untuk memasok logistik, personel, dan amunisi ke pedalaman Jambi. Oleh karena itu, ia memfokuskan serangannya pada jalur air ini.

    • Penyerangan Kapal Belanda: Raden Mattaher dan pasukannya sering melakukan penyergapan terhadap kapal-kapal perang Belanda (seperti kapal jukung dan kapal perang seperti “Van Huaten”). Mereka menenggelamkan kapal-kapal tersebut, merampas senjata, dan menewaskan serdadu Belanda. Ini menimbulkan kerugian besar dan efek psikologis yang kuat bagi Belanda.
    • Pemanfaatan Medan: Pasukan Raden Mattaher sangat mahir memanfaatkan medan rawa, hutan lebat, dan sungai-sungai kecil di Jambi untuk melakukan serangan mendadak dan kemudian menghilang dengan cepat, menyulitkan Belanda untuk melacak dan mengejar.
  3. Pertempuran-Pertempuran Penting:
    • Perang Kumpeh (1885): Bersama Sultan Thaha, Raden Mattaher berhasil menenggelamkan kapal perang Belanda, Van Huaten, di perairan Sungai Kumpeh, Muaro Jambi. Peristiwa ini menjadi salah satu kemenangan besar dan membuatnya digelari “Singo Kumpeh” oleh para prajurit dan rakyatnya. Perang Kumpeh ini kemudian berlanjut menjadi perang berkepanjangan dari tahun 1890 hingga 1906.
    • Serangan di Sungai Bengkal (1901): Pasukan Raden Mattaher berhasil merampas banyak senjata dan karaben Belanda.
    • Serangan di Pijoan (1901): Bivak (pos komando) Belanda di Pijoan diserang, dan pasukannya kembali memperoleh banyak senjata kerabin.
    • Penenggelaman Perahu Jukung di Tanjung Gedang Sungai Alai (1902): Ia memimpin penyerangan terhadap 30 perahu jukung berisi serdadu Belanda, berhasil menenggelamkan perahu-perahu tersebut dan menewaskan seluruh serdadu di dalamnya.
  4. Sikap Pantang Menyerah:

    Raden Mattaher dikenal dengan sifatnya yang gigih dan pantang menyerah. Meskipun Belanda terus menambah kekuatan dan mendesak, ia tidak pernah tunduk. Ia hidup dalam pelarian dan pertempuran, bahkan jarang berkumpul dengan keluarganya, demi terus mengobarkan semangat perlawanan. Ia menyebut pasukannya sebagai “Sabilillah”, menunjukkan semangat jihad dalam perjuangan mereka.


 

Gugur dan Akhir Perjuangan

 

Perjuangan Raden Mattaher yang heroik akhirnya harus berakhir. Pada awal September 1907, dalam sebuah operasi militer Belanda yang masif, Raden Mattaher terpojok. Belanda menggunakan berbagai tipu muslihat untuk melumpuhkannya.

Pada tanggal 10 September 1907, Raden Mattaher gugur syahid setelah ditembak mati di rumahnya sendiri (beberapa sumber menyebut 1 Oktober 1907). Kematiannya menjadi kemenangan besar bagi Belanda dan duka mendalam bagi rakyat Jambi. Perlawanan bersenjata berskala besar di Jambi memang mereda setelah gugurnya Raden Mattaher dan Sultan Thaha Saifuddin (yang juga gugur pada 1904), namun semangat perlawanan tetap hidup dan kemudian berlanjut melalui jalur politik dan organisasi pergerakan.

Jasad Raden Mattaher kemudian dikebumikan di Komplek Pemakaman Raja-raja Jambi di tepi Danau Sipin, Kota Jambi.


 

Warisan dan Penghargaan

 

Meskipun gugur di medan perang, nama Raden Mattaher tetap hidup dalam sanubari rakyat Jambi. Ia adalah simbol keberanian dan kegigihan dalam menghadapi penjajah.

  • Pahlawan Nasional: Atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan, Raden Mattaher dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 10 November 2020.
  • Pengabadian Nama: Namanya diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Jambi, beberapa nama jalan, nama lapangan tembak, dan yayasan di Kota Jambi, sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan perjuangannya.

Raden Mattaher adalah bukti nyata bahwa semangat perlawanan dan kecerdasan strategi dapat membuat pasukan kolonial paling kuat sekalipun gentar. Ia adalah salah satu putra terbaik Jambi yang mendedikasikan hidupnya untuk kebebasan tanah air dari belenggu penjajahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here