Bung Tomo: Pembakar Semangat Arek-Arek Suroboyo dan Simbol Perlawanan Rakyat

0
487

 

Bung Tomo: Pembakar Semangat Arek-Arek Suroboyo dan Simbol Perlawanan Rakyat

 

Sutomo, atau yang lebih dikenal dengan julukan populernya Bung Tomo, adalah salah satu tokoh paling ikonik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namanya tak terpisahkan dari peristiwa heroik Pertempuran Surabaya 10 November 1945, di mana suaranya yang membakar semangat rakyat berhasil menggerakkan perlawanan luar biasa terhadap pasukan Sekutu dan Belanda. Ia bukan seorang militer atau politikus besar, melainkan seorang orator ulung yang mampu membangkitkan gelora patriotisme di hati rakyat.

 

Latar Belakang dan Kehidupan Awal

 

Bung Tomo lahir dengan nama Sutomo pada tanggal 3 Oktober 1920 di Kampung Blauran, Surabaya, Jawa Timur. Ia berasal dari keluarga kelas menengah yang sederhana. Ayahnya, Kartawan Cokrodisurjo, adalah seorang pegawai negeri, sedangkan ibunya, Subastita, adalah seorang ibu rumah tangga.

Meskipun berasal dari keluarga sederhana, Bung Tomo memiliki semangat belajar yang tinggi. Ia sempat mengenyam pendidikan di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) namun tidak tamat. Meski demikian, ia tidak berhenti belajar. Ia banyak membaca buku, berdiskusi, dan aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan. Sejak muda, ia sudah menunjukkan minat pada jurnalisme dan kepemimpinan.

Sebelum kemerdekaan, Bung Tomo sempat bekerja sebagai kuli hingga akhirnya menjadi seorang jurnalis. Ia bergabung dengan berbagai kelompok politik dan sosial, termasuk Gerakan Rakyat Baru dan Pemuda Republik Indonesia. Pengalamannya sebagai jurnalis dan aktivis inilah yang membekalinya dengan kemampuan berbicara di depan publik dan menggerakkan massa.

 

Peran Kunci dalam Revolusi Fisik: Pertempuran Surabaya 10 November 1945

 

Nama Bung Tomo melambung tinggi dan menjadi simbol perlawanan ketika meletusnya Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Peristiwa ini adalah salah satu pertempuran paling sengit dalam Revolusi Nasional Indonesia dan menjadi penentu bagi semangat perjuangan rakyat.

  1. Latar Belakang Peristiwa:

    Setelah proklamasi kemerdekaan, tentara Sekutu (dibawah komando Inggris, yang di dalamnya juga ada tentara Belanda/NICA) datang ke Indonesia dengan dalih melucuti tentara Jepang. Namun, niat asli Belanda untuk merebut kembali Indonesia semakin jelas. Di Surabaya, ketegangan memuncak. Insiden tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, komandan pasukan Inggris di Surabaya, pada 30 Oktober 1945, memicu ultimatum dari Sekutu agar rakyat Surabaya menyerah dan menyerahkan senjata pada 10 November 1945, pukul 06.00 WIB. Jika tidak, Surabaya akan dihancurkan.

  2. Orasi Bung Tomo yang Menggema:

    Menanggapi ultimatum Sekutu, Bung Tomo tidak gentar. Melalui siaran radio Radio Pemberontakan, ia menyampaikan pidato-pidato yang sangat heroik dan membakar semangat rakyat Surabaya. Suaranya yang lantang, berapi-api, dan penuh keyakinan menggema di seluruh pelosok kota, bahkan terdengar hingga ke berbagai daerah lain. Dalam pidatonya yang ikonik, ia menyerukan:

    “Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia, terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya! Kita semuanya akan berjuang habis-habisan! Kita akan menghadapi mereka! Kita akan melawan mereka! Saudara-saudara, kami punya Tuhan! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka atau mati!”

    Pidato ini berhasil mengobarkan semangat “Arek-arek Suroboyo” (pemuda-pemudi Surabaya) dan seluruh elemen masyarakat, dari tentara rakyat, laskar-laskar, hingga rakyat sipil, untuk bersatu melawan pasukan Sekutu yang bersenjata lengkap. Mereka memilih untuk bertempur hingga titik darah penghabisan daripada menyerah.

  3. Memimpin Pertempuran:

    Meskipun bukan seorang komandan militer formal, Bung Tomo adalah pemimpin spiritual dan moral pertempuran. Ia terus memberikan semangat melalui siaran radio, menggerakkan massa, dan mengkoordinasikan perlawanan. Ribuan rakyat Surabaya, dengan senjata seadanya seperti bambu runcing, golok, dan semangat membaja, menghadapi gempuran artileri dan pesawat terbang Sekutu. Pertempuran ini berlangsung selama berminggu-minggu, menyebabkan kerugian besar di kedua belah pihak. Meskipun Surabaya akhirnya jatuh ke tangan Sekutu, perlawanan heroik ini menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia tidak akan menyerah begitu saja.

 

Peran Pasca-Kemerdekaan dan Akhir Hayat

 

Setelah Revolusi Fisik, Bung Tomo tetap aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan dan politik. Ia sempat menduduki beberapa jabatan pemerintahan, termasuk sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata pada masa kabinet Burhanuddin Harahap.

Namun, di masa Orde Baru, Bung Tomo mulai kritis terhadap kebijakan pemerintah. Ia menyuarakan keprihatinannya terhadap masalah korupsi dan kesenjangan sosial. Sikap kritisnya ini menyebabkan ia ditahan pada tahun 1978. Setelah dibebaskan, ia memilih untuk menjauh dari hiruk pikuk politik dan lebih banyak berdakwah.

Bung Tomo meninggal dunia pada tanggal 7 Oktober 1981 saat sedang menunaikan ibadah haji di Padang Arafah, Arab Saudi. Sesuai wasiatnya, ia tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel, Surabaya, berdampingan dengan rakyat biasa yang pernah ia perjuangkan.

 

Warisan dan Penghargaan

 

Bung Tomo adalah simbol keberanian dan semangat pantang menyerah rakyat Indonesia. Pidatonya pada 10 November 1945 menjadi salah satu rekaman sejarah yang paling berharga dan terus menginspirasi generasi.

  • Pahlawan Nasional: Pada tanggal 9 November 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Bung Tomo, mengakui jasa-jasanya yang luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan.
  • Monumen dan Film: Patung-patung dan monumen Bung Tomo didirikan di berbagai tempat di Surabaya. Kisah hidupnya juga telah diangkat ke layar lebar, seperti film “Merah Putih” dan “Surabaya 1945”, yang terus mengenang perannya.
  • Semangat 10 November: Tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional, tak lepas dari peristiwa heroik yang dipimpin oleh Bung Tomo di Surabaya.

Bung Tomo adalah bukti nyata bahwa kekuatan kata-kata dan semangat seorang individu mampu menggerakkan jutaan orang untuk memperjuangkan kemerdekaan dan martabat bangsanya. Ia adalah pahlawan sejati yang akan selalu dikenang sebagai “Pembakar Semangat Arek-Arek Suroboyo.”


Apakah ada tokoh lain yang ingin Anda ketahui lebih lanjut, atau mungkin ada aspek spesifik dari perjuangan Bung Tomo yang ingin Anda perdalam?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here