Sultan Hasanuddin: Ayam Jantan dari Timur dan Simbol Perlawanan Makassar

0
1584

 

Sultan Hasanuddin: Ayam Jantan dari Timur dan Simbol Perlawanan Makassar

 

Sultan Hasanuddin (lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 – meninggal di Gowa, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terkenal dengan keberanian dan kegigihannya melawan penjajah Belanda. Dijuluki “Ayam Jantan dari Timur” (De Haantje van het Oosten) oleh Belanda karena keberaniannya yang luar biasa, ia menjadi simbol perlawanan tak kenal menyerah rakyat Sulawesi Selatan terhadap dominasi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).

 

Latar Belakang dan Kehidupan Awal

 

Sultan Hasanuddin lahir dengan nama asli I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Ia adalah putra kedua dari Raja Gowa ke-15, Sultan Malikussaid. Sejak kecil, Hasanuddin sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa, jiwa kepemimpinan yang kuat, dan pemahaman yang mendalam tentang agama Islam serta adat istiadat Kerajaan Gowa.

Ia mendapatkan pendidikan yang komprehensif, baik dalam ilmu agama maupun ilmu pemerintahan dan kemiliteran. Lingkungan Kerajaan Gowa-Tallo, yang kala itu merupakan pusat perdagangan maritim yang maju dan memiliki angkatan laut yang kuat, turut membentuk karakternya sebagai seorang pemimpin yang visioner dan strategis. Ia juga banyak belajar dari para ulama dan pedagang asing yang singgah di pelabuhan Somba Opu.

Pada usia 22 tahun, tepatnya pada tahun 1653, I Mallombasi dinobatkan sebagai Raja Gowa ke-16 dengan gelar Sultan Hasanuddin. Penobatannya terjadi di tengah situasi politik yang sangat menantang, di mana VOC mulai memperlihatkan ambisinya untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara, termasuk di wilayah timur.

 

Kondisi Makassar dan Ambisi VOC

 

Pada abad ke-17, Kerajaan Gowa-Tallo (yang sering disebut Makassar oleh bangsa asing) adalah salah satu kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Indonesia bagian timur. Makassar merupakan pelabuhan entrepot (pusat transit) yang ramai, tempat bertemunya para pedagang dari berbagai bangsa: Arab, Tionghoa, Gujarat, Portugis, Inggris, dan tentu saja Belanda. Politik perdagangan bebas yang diterapkan Gowa-Tallo sangat menguntungkan kerajaan dan rakyatnya.

Namun, keberadaan Makassar sebagai pusat perdagangan bebas ini sangat mengganggu VOC. Perusahaan dagang Belanda tersebut ingin menerapkan monopoli perdagangan rempah-rempah, terutama di Maluku, dan Makassar menjadi penghalang utama karena masih banyak pedagang yang membawa rempah-rempah Maluku ke Makassar alih-alih menjualnya kepada VOC. Oleh karena itu, VOC melihat Gowa sebagai musuh dan saingan yang harus ditundukkan.

 

Perjuangan Melawan Penjajah (VOC)

 

Sultan Hasanuddin mewarisi semangat perlawanan dari para pendahulunya. Ia bertekad kuat untuk mempertahankan kedaulatan Kerajaan Gowa dan prinsip perdagangan bebasnya. Perang antara Gowa dan VOC tak terhindarkan.

  1. Perang Makassar (1666-1669):

    Perang besar antara Gowa dan VOC terjadi beberapa kali, namun yang paling sengit adalah periode 1666-1669. VOC, di bawah pimpinan Cornelis Speelman, mengerahkan kekuatan armada laut yang besar, ditambah dukungan dari sekutu-sekutu lokal mereka, terutama Arung Palakka dari Bone. Arung Palakka adalah seorang bangsawan Bugis yang memberontak terhadap Gowa dan menjalin aliansi dengan VOC demi membalas dendam dan meraih kekuasaan.

    Sultan Hasanuddin memimpin langsung pasukannya dalam pertempuran laut maupun darat. Benteng Somba Opu, sebagai ibu kota dan pusat kekuatan Gowa, menjadi garis pertahanan utama. Pertempuran demi pertempuran berlangsung sangat sengit. Meskipun kalah dalam persenjataan dan jumlah kapal perang, keberanian dan strategi Sultan Hasanuddin membuat VOC kewalahan. Ia melancarkan serangan mendadak, menggunakan taktik gerilya laut, dan memimpin pasukannya dengan gagah berani di garis depan. Keberanian inilah yang membuat Speelman menjulukinya “Ayam Jantan dari Timur.”

  2. Perlawanan Tak Kenal Menyerah:

    Sultan Hasanuddin menolak segala bentuk kompromi yang akan merugikan kedaulatan dan prinsip perdagangan bebas kerajaannya. Ia berulang kali memimpin perlawanan, meskipun pasukannya sering menghadapi kesulitan logistik dan tekanan berat dari VOC serta sekutunya. Ia berpegang teguh pada prinsip “lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah.”

  3. Perjanjian Bongaya (1667):

    Setelah pertempuran panjang dan berat, serta pengepungan Benteng Somba Opu yang melelahkan, Kerajaan Gowa terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Perjanjian ini sangat merugikan Gowa. Beberapa poin pentingnya antara lain:

    • Gowa harus mengakui monopoli perdagangan VOC di wilayahnya.
    • Semua benteng Gowa harus dihancurkan, kecuali Benteng Somba Opu yang kemudian harus diserahkan kepada VOC.
    • Gowa harus membayar biaya perang kepada VOC.
    • Arung Palakka diakui sebagai penguasa Bone yang merdeka.

    Sultan Hasanuddin sangat tidak menyukai perjanjian ini dan menganggapnya sebagai penghinaan. Ia berusaha untuk melanggar perjanjian tersebut dan melanjutkan perlawanan.

  4. Pertempuran Terakhir dan Jatuhnya Somba Opu:

    Meskipun telah menandatangani Perjanjian Bongaya, Sultan Hasanuddin tidak menyerah begitu saja. Ia diam-diam mengumpulkan kembali kekuatan dan memperbaiki benteng-benteng yang telah dihancurkan. Perlawanan kembali meletus. Namun, pada tahun 1669, VOC dengan kekuatan penuh berhasil mengepung dan akhirnya merebut Benteng Somba Opu, yang menjadi simbol kejayaan Gowa. Jatuhnya Somba Opu menandai kekalahan telak Gowa dalam perang ini.

 

Akhir Hayat

 

Setelah jatuhnya Somba Opu, Sultan Hasanuddin tidak lagi memimpin perlawanan secara langsung. Ia mengundurkan diri dari takhta kerajaan pada 29 Juni 1669 dan digantikan oleh putranya, I Mappasomba Daeng Nguraga yang bergelar Sultan Amir Hamzah.

Sultan Hasanuddin meninggal dunia setahun kemudian, pada tanggal 12 Juni 1670, di Gowa. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Raja-raja Gowa di Katangka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

 

Warisan dan Penghargaan

 

Meskipun Kerajaan Gowa harus tunduk pada dominasi VOC setelah perjuangan panjang yang heroik, semangat perlawanan Sultan Hasanuddin tak pernah padam dan terus menginspirasi generasi-generasi selanjutnya.

  • Pahlawan Nasional: Pada tanggal 6 November 1973, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Sultan Hasanuddin.
  • Simbol Keberanian: Sultan Hasanuddin dikenang sebagai simbol keberanian, kegigihan, dan pantang menyerah dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. Julukan “Ayam Jantan dari Timur” terus melekat padanya sebagai pengingat akan semangat juangnya.
  • Inspirasi Nasionalisme: Kisah perjuangannya menjadi bagian penting dari sejarah nasionalisme Indonesia, mengajarkan tentang pentingnya harga diri bangsa dan perlawanan terhadap penjajahan.

Nama Sultan Hasanuddin kini diabadikan di berbagai tempat, termasuk universitas terkemuka di Makassar (Universitas Hasanuddin), nama jalan, bandara, dan kapal perang, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya yang luar biasa bagi nusa dan bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here