TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid: Sang Pencerah dan Pejuang Kemerdekaan dari Tanah Lombok

0
797

 

TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid: Sang Pencerah dan Pejuang Kemerdekaan dari Tanah Lombok

 

Maulana Syaikh Tuan Guru Haji (TGH.) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah salah satu ulama terbesar dan pahlawan nasional dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Beliau bukan hanya seorang pendidik yang visioner dan pendiri organisasi Islam terbesar di NTB, Nahdlatul Wathan (NW), tetapi juga seorang pejuang yang gigih melawan penjajah Belanda dan Jepang. Perpaduan antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan keberanian fisik menjadikannya sosok yang sangat dihormati dan berpengaruh.

 

Latar Belakang dan Kehidupan Awal

 

TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid dilahirkan pada 5 Agustus 1904 di Bermi, Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Nama kecilnya adalah Muhammad Saggaf. Ia berasal dari keluarga ulama dan bangsawan. Ayahnya adalah TGH. Abdul Madjid, seorang ulama terkemuka, dan ibunya bernama Hj. Halimatussadiyah.

Sejak kecil, Zainuddin Abdul Madjid sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa dan minat yang mendalam pada ilmu agama. Ia memulai pendidikannya dengan belajar mengaji Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama dari ayahnya. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan di berbagai pesantren dan madrasah lokal di Lombok, mendalami fiqih, tafsir, hadis, dan bahasa Arab.

Pada tahun 1923, di usia 19 tahun, ia berkesempatan menunaikan ibadah haji dan melanjutkan studinya di Makkah, Arab Saudi. Di sana, ia belajar di berbagai madrasah dan berguru kepada ulama-ulama besar di Masjidil Haram, termasuk Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Muhammad Amin Kutbi, dan Syaikh Hasan al-Masysyath. Selama 12 tahun di Makkah (1923-1934), ia mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk tasawuf, yang membentuk kepribadiannya sebagai ulama yang luas ilmunya dan mendalam spiritualnya.

 

Kembali ke Tanah Air dan Gerakan Pendidikan

 

Sekembalinya ke Lombok pada tahun 1934, TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid membawa semangat pembaharuan dan ilmu yang mendalam. Ia melihat kondisi masyarakat Lombok yang masih terbelakang dalam pendidikan dan juga tertekan oleh penjajah. Dengan semangat dakwah dan pendidikan, ia memulai perjuangannya.

  1. Pendirian Madrasah NWDI (1937):

    Pada 22 Agustus 1937, beliau mendirikan lembaga pendidikan Islam pertama di Lombok yang bercorak modern, yaitu Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) khusus untuk laki-laki. Madrasah ini mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum secara terpadu, sesuatu yang masih jarang di masa itu.

  2. Pendirian Madrasah NBDI (1943):

    Melihat pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan, pada 21 April 1943, beliau mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) khusus untuk perempuan. Ini menunjukkan visi progresifnya dalam mengangkat derajat kaum perempuan melalui pendidikan.

  3. Pendirian Nahdlatul Wathan (1952):

    Untuk mengkoordinir seluruh jaringan madrasah dan kegiatan dakwahnya, pada 1 Maret 1952, TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid mendirikan organisasi massa Islam Nahdlatul Wathan (NW). Organisasi ini berkembang pesat dan menjadi kekuatan sosial, pendidikan, dan politik terbesar di NTB.

Melalui madrasah-madrasahnya, beliau mencetak kader-kader ulama, guru, dan pejuang yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok NTB dan daerah lain, membawa misi pendidikan dan kesadaran kebangsaan.

 

Perjuangan Melawan Penjajah

 

Selain berjuang melalui jalur pendidikan, TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid juga terlibat aktif dalam perjuangan fisik melawan penjajah Belanda dan Jepang.

  1. Melawan Belanda (Pra-Kemerdekaan):

    Sebelum kemerdekaan, TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid secara terang-terangan menentang kebijakan-kebijakan kolonial Belanda yang merugikan rakyat. Beliau menggunakan mimbar dakwah dan madrasahnya sebagai sarana untuk menyebarkan semangat anti-penjajahan dan menumbuhkan nasionalisme di kalangan santri dan masyarakat. Beliau juga memfasilitasi pertemuan-pertemuan rahasia para pejuang.

  2. Perlawanan terhadap Jepang:

    Ketika Jepang menduduki Indonesia (1942-1945), mereka juga menerapkan kebijakan keras dan eksploitatif. TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid termasuk ulama yang menentang kekejaman Jepang, terutama sistem romusha (kerja paksa) yang menyengsarakan rakyat. Beliau mengobarkan semangat perlawanan dan seringkali bersembunyi untuk menghindari kejaran tentara Jepang.

  3. Peran dalam Mempertahankan Kemerdekaan (1945-1949):

    Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid menjadi salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam menggerakkan rakyat Lombok untuk mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang ingin kembali.

    • Komandan Laskar Hizbullah/Sabilillah: Beliau membentuk dan memimpin laskar perjuangan seperti Hizbullah dan Sabilillah di Lombok. Laskar ini terdiri dari para santri dan masyarakat yang dilatih militer dan spiritual. Mereka terlibat dalam berbagai pertempuran sengit melawan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) dan tentara Sekutu.
    • Mengobarkan Semangat Jihad: Dengan fatwa-fatwa dan khotbahnya, beliau mengobarkan semangat jihad fisabilillah, menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk mengangkat senjata dan berjuang mati-matian demi tegaknya kemerdekaan Indonesia. Hal ini membuat rakyat Lombok sangat solid dalam perlawanan.
    • Basis Gerilya: Madrasah-madrasah NWDI/NBDI seringkali menjadi pusat koordinasi perjuangan, tempat pelatihan militer, dan juga tempat persembunyian para pejuang.

 

Peran Pasca-Kemerdekaan dan Kontribusi Nasional

 

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid terus mengabdikan diri pada pengembangan pendidikan dan dakwah Islam.

  • Pengembangan Nahdlatul Wathan: Organisasi NW berkembang pesat, mendirikan ribuan madrasah dari tingkat Raudhatul Athfal (RA) hingga Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.
  • Anggota Konstituante: Beliau pernah menjadi anggota Konstituante RI (1956-1959), menunjukkan keterlibatannya dalam pembangunan sistem ketatanegaraan Indonesia.
  • Penulis Produktif: TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid juga seorang ulama yang produktif menulis kitab-kitab dalam bahasa Arab, baik puisi maupun prosa, yang berisi ajaran agama, moral, dan kebangsaan.

 

Wafat dan Penghargaan

 

Maulana Syaikh TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid wafat pada tanggal 21 Oktober 1997 di Pancor, Lombok Timur, pada usia 93 tahun. Beliau dimakamkan di kompleks Makam Pahlawan Nasional Pancor.

Atas jasa-jasa dan pengorbanannya yang luar biasa bagi agama, bangsa, dan negara, TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 9 November 2017 oleh Presiden Joko Widodo.

TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid adalah teladan seorang ulama yang tidak hanya berjuang di mimbar dakwah dan ruang kelas, tetapi juga aktif di medan pertempuran. Beliau adalah pencerah yang membangun peradaban melalui pendidikan dan pejuang yang membela tanah air dengan segenap jiwa dan raga. Warisannya, terutama Nahdlatul Wathan, terus berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here