Wilhelmus Zakaria Johannes: Bapak Radiologi Indonesia dan Pejuang Kemerdekaan yang Tak Gentar

0
1229

 

Wilhelmus Zakaria Johannes: Bapak Radiologi Indonesia dan Pejuang Kemerdekaan yang Tak Gentar

 

Prof. Dr. Wilhelmus Zakaria Johannes, atau lebih dikenal sebagai W.Z. Johannes, adalah salah satu putra terbaik bangsa yang dikenal sebagai ahli radiologi pertama Indonesia dan merupakan tokoh sentral dalam pengembangan ilmu kedokteran di tanah air. Di samping kiprahnya yang cemerlang di dunia medis, beliau juga seorang pejuang kemerdekaan yang gigih, berani menentang penjajah Belanda, dan berkontribusi besar dalam mempertahankan Republik Indonesia.

 

Latar Belakang dan Pendidikan Awal

 

W.Z. Johannes lahir pada 16 Juli 1895 di Termanu, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Ia berasal dari keluarga guru dan pengurus gereja. Ayahnya, M.Z. Johannes, adalah seorang guru bantu sekolah dasar. Lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan dan nilai-nilai agama Kristen membentuk karakternya menjadi pribadi yang tekun, tegas, dan berdedikasi.

Johannes memulai pendidikannya di Sekolah Melayu di Kupang. Kecerdasannya yang menonjol membawanya melanjutkan ke Europesche Lagere School (ELS) di Kupang pada tahun 1905. Setelah lulus dari ELS pada 1912, ia diterima di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia (sekarang Jakarta), sebuah sekolah kedokteran bagi bumiputera.

Di STOVIA, kecerdasan Johannes semakin terbukti. Ia menyelesaikan studinya dalam waktu delapan tahun, lebih cepat dari masa normal sembilan tahun, dan berhasil meraih gelar Indische Arts pada tahun 1920. Gelar ini menandai dimulainya kariernya sebagai dokter.

 

Karier Cemerlang di Dunia Medis dan Pelopor Radiologi

 

Setelah lulus dari STOVIA, W.Z. Johannes memulai perjalanan kariernya sebagai dokter pemerintah. Ia sempat ditugaskan di berbagai daerah, termasuk Bengkulu (1921) dan beberapa kota di Palembang (1921-1930).

Saat bertugas di Palembang, Johannes mengalami musibah. Ia menderita penyakit yang menyebabkan kedua kakinya lumpuh. Kondisi ini membawanya dirawat di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ), yang sekarang dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Batavia. Selama masa pemulihan, semangat belajarnya tidak padam. Ia mendalami ilmu rontgen, meyakini bahwa teknologi ini dapat membantu proses penyembuhannya. Keyakinannya terbukti, ia berangsur pulih meskipun tetap berjalan pincang.

Dari pengalamannya ini, minat W.Z. Johannes pada radiologi semakin besar. Pada tahun 1930, ia diangkat sebagai Asisten Ahli Radiologi di CBZ Jakarta. Kemudian pada tahun 1935, ia dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Pusat di Semarang (sekarang RSUD Dr. Kariadi) untuk lebih mengembangkan ilmu rontgen. Setahun kemudian, ia kembali ditarik ke Jakarta dan diangkat sebagai Kepala Bagian Rontgen di CBZ. Sejak saat itulah, W.Z. Johannes dikenal luas sebagai ahli radiologi dan rontgen pertama di Indonesia. Beliau juga berhasil menyelesaikan disertasinya yang berjudul “Rontgen diagnostiek der maliga langtumoren” (Diagnosis Rontgen Tumor Ganas Paru).

Setelah kemerdekaan, W.Z. Johannes menunjukkan dedikasinya pada pendidikan. Pada 1 November 1946, beliau diangkat dan dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia, yang merupakan cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Puncaknya, pada Maret 1952, ia diangkat menjadi Rektor Universitas Indonesia (UI), sebuah jabatan yang sangat prestisius.

 

Perjuangan Melawan Penjajah dan Jiwa Nasionalisme yang Kuat

 

Di samping kecemerlangannya di bidang kedokteran, W.Z. Johannes adalah seorang nasionalis sejati yang tidak gentar melawan penjajah. Perjuangannya tidak hanya terbatas pada bidang medis, tetapi juga mencakup ranah politik dan pergerakan.

  1. Aktivisme Politik dan Pergerakan Nasional:

    W.Z. Johannes aktif dalam berbagai organisasi pergerakan. Ia pernah dicalonkan menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) pada tahun 1939, meskipun ditolak oleh pemerintah kolonial. Pada masa pendudukan Jepang, ia bersama Sam Ratulangi mendirikan Badan Persiapan Persatuan Kristen (BPPK), yang kemudian menjadi cikal bakal Partai Kristen Indonesia (Parkindo) setelah proklamasi kemerdekaan. Ia sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Parkindo dan memiliki pengaruh besar dalam partai tersebut.

  2. Menentang Belanda Pasca-Kemerdekaan:

    Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, W.Z. Johannes secara terang-terangan menunjukkan keberpihakannya pada Republik Indonesia. Ia seringkali mengibarkan bendera Merah Putih di depan rumahnya, sebuah tindakan yang berani dan provokatif di mata Belanda (NICA) dan Sekutu. Akibatnya, rumahnya menjadi incaran musuh.

    Beliau berkali-kali menghadapi intimidasi dan ancaman. Pernah pada Hari Natal 1945, sepasukan serdadu Gurkha (bagian dari pasukan Sekutu yang didukung Belanda) datang ke rumahnya mencari pemuda-pemuda yang sering mengganggu patroli mereka. W.Z. Johannes dipaksa keluar dan digiring ke pos Gurkha, di mana ia dihukum jongkok selama empat jam. Hukuman ini sangat berat bagi seseorang dengan kondisi kaki pincang, namun ia tidak mengeluh dan tetap menjalankan tugasnya di rumah sakit setelahnya.

  3. Menolak Bujukan Belanda:

    Pihak Belanda menyadari betapa berharganya sosok W.Z. Johannes sebagai seorang ahli medis. Mereka berusaha membujuknya agar bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Belanda bahkan mendatangkan bekas guru besarnya, Prof. Van der Plaats, dan menawarkan pangkat serta gaji yang lebih tinggi. Namun, W.Z. Johannes menolak tawaran tersebut mentah-mentah. Ia justru secara terang-terangan mengajak rekan-rekannya sesama dokter dan tenaga medis untuk terus berjuang demi kepentingan Republik Indonesia.

  4. Peran dalam Gerakan Rakyat Indonesia Sunda Kecil (GRISK):

    Selain aktif di Parkindo, W.Z. Johannes juga terlibat dalam pembentukan organisasi perjuangan bernama Gerakan Rakyat Indonesia Sunda Kecil (GRISK). Organisasi ini bertujuan untuk menggalang kekuatan rakyat di wilayah Sunda Kecil (Nusa Tenggara) dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

 

Akhir Hayat dan Warisan

 

Pada tahun 1952, W.Z. Johannes ditugaskan untuk menjalani studi lanjut di Den Haag, Belanda. Namun, takdir berkata lain. Beliau meninggal dunia pada tanggal 4 September 1952 di Den Haag karena serangan jantung, di usia 57 tahun.

Jenasahnya kemudian dipulangkan ke Tanah Air melalui jalur laut dan dimakamkan di Pemakaman Jati Petamburan, Jakarta Pusat, pada 26 November 1952.

Atas jasa-jasa dan kontribusinya yang luar biasa bagi kemajuan ilmu kedokteran dan perjuangan kemerdekaan, pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Prof. Dr. W.Z. Johannes pada tanggal 27 Maret 1968, berdasarkan Keppres No. 6/TK/1968.

Namanya kini diabadikan di berbagai tempat sebagai bentuk penghormatan:

  • Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. W.Z. Johannes di Kupang, NTT.
  • Jalan W.Z. Johannes di berbagai kota di Indonesia.

Wilhelmus Zakaria Johannes adalah contoh nyata seorang ilmuwan yang tak melupakan kewajibannya sebagai warga negara. Ia membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan nasionalisme dapat berjalan seiring, berjuang dengan kecerdasan dan keberanian demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here